|
Fellowship Fungsionaris YBBU Awal Tahun 2010 |
|
|
|
|
Written by website admin
|
|
Tuesday, 16 February 2010 06:53 |
|
Fellowship Fungsionaris YBBU Awal Tahun 2010
Awal tahun dipandang sebagai golden time untuk mengevaluasi apa yang sudah dicapai sepanjang tahun dan merancang masa depan yang diharapkan. Pada 21 Januari 2010, bertempat di Olive Tree, Hotel Nikko, Jakarta Fungsionaris YBBU mengadakan fellowship awal tahun sekaligus jamuan makan siang. Di tengah-tengah kesibukan para pemimpin YBBU, pada kesempatan tersebut hadir Dewan Kehormatan YBBU; Bapak Marzuki Usman, SE, MA, Bapak Prof.DR.Ermaya Suradinata, SH, MH, MS dan Ibu Poppy Dharsono. Dewan Penasehat Bapak Mayjen TNI (Purn) Jusuf Domi serta Dewan Pengawas Bapak Brigjen TNI (Purn) Andreas Mere dan Bapak R.B Iskandar Kristantoro.
Dalam pertemuan tersebut Ketua YBBU, Bapak Haryaman Sunggono secara khusus melaporkan beberapa hal, yaitu; kegiatan pelayanan sosial yang sudah dilaksanakan sepanjang tahun 2009, rencana kerja sepanjang tahun 2010 sekaligus meminta masukan dari Dewan Pengurus untuk langkah-langkah YBBU ke depan.
Salah satu topik utama yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut adalah pengembangan karakter melalui dunia pendidikan. Karakter yang baik, pikiran yang positif, keterbukaan dan saling menghargai perbedaan harus ditanam sejak sedini mungkin. Sebab itu, YBBU memiliki visi membangun 10 Taman Kanak-Kanak selama 5 tahun mendatang. Anak-anak usia dini, terutama dari keluarga ekonomi lemah mendapat perhatian khusus dari program kerja YBBU di masa mendatang. Semua anak-anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang terbaik supaya menjadi generasi yang unggul.         |
|
Last Updated on Tuesday, 20 July 2010 07:14 |
|
PERJALANAN YBBU KE PADANG PARIAMAN |
|
|
|
|
Written by website admin
|
|
Tuesday, 16 February 2010 06:48 |
|
PERJALANAN YBBU KE PADANG PARIAMAN
25-27 JANUARI 2010
BANGUN KEMBALI MESJID YANG RUNTUH
Yayasan Lima Roti Dua Ikan Indonesia dan partners mendirikan sebuah mesjid yang runtuh akibat gempa di Padang Pariaman, tepatnya di Korong Guguk, Nagari Lurah Ampalu, Kec. VII Koto. Masjid tersebut dibangun bersama-sama oleh para relawan dan masyarakat setempat. Kiranya dengan berdirinya mesjid ini kembali masyarakat setempat memiliki tempat beribadah berjamaah yang layak. Terima kasih kepada para donatur yang telah membantu baik secara moril maupun materil. KERAJINAN PERAK KARYA PUTRA KORONG GUGUK Bakrie (29 tahun), putra daerah yang mengembangkan kerajinan perak di Korong Guguk. Wali (lurah) Korong Guguk yang hanya lulusan SD ini mendapatkan keahlian membuat aksesoris dari bahan baku perak ini ketika merantau di Jambi. Ia melatih belasan pemuda menjadi pengrajin perak. Hasilnya berupa kalung, gelang dan anting-anting yang cantik. Namun ketika gempa, mesin-mesin dan peralatan mereka juga ikut rusak. Yayasan Lima Roti Dua Ikan Indonesia dan partners membantu membelikan mesin dan peralatan yang baru agar mereka dapat menghasilkan uang kembali. “Kami memberikan kail kepada mereka, agar mereka dapat memancing ikan.” Saat ini usaha mereka dapat berjalan dengan baik berkat dukungan dari para donatur. Hasil karyanya dipasarkan di Bukit Tinggi. Tidak mustahil suatu hari nanti juga merambah sampai ke Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, bahkan manca negara.

BANTUAN UNTUK SD NEGERI 33 KEC VII KOTO SUNGAI SARIK Gempa telah meluluhlantahkan gedung SDN 33 VII Koto Sungai Sarik. Semua kelas sampai rumah dinas guru pun runtuh seketika. Satu-satunya bangunan yang tersisa hanyalah ruangan kepala sekolah. Untuk kelangsungan kegiatan belajar-mengajar, pemerintah setempat membangun sebuah sekolah darurat. Yayasan Lima Roti Dua Ikan Indonesia dan partners membantu membelikan meja, kursi serta lemari yang baru. Saat ini jumlah murid dari kelas 1 sampai kelas 6 SD ada 70 orang. Ada 4 orang guru yang sudah berstatus Pegawai Negari Sipil dan 3 orang guru honorer, hanya dengan gaji Rp.250.000,-/bulan.
Selain itu, ada 2 orang guru perempuan setiap hari pulang pergi dari ibukota Padang dengan jarak tempuh pulang pergi sekitar 150 km/jam, menggunakan motor dan bus umum karena rumah guru di SD di tempat ini tidak layak huni. Murid-murid kadang baru masuk sekolah pada pukul 9 pagi karena sang guru baru tiba. Jika hujan lebat datang, sang guru pun tidak dapat datang mengajar karena kondisi jalan yang buruk.
Kebanyakan anak-anak hanya lulus SD karena kendala biaya dan juga jarak tempuh yang cukup jauh jika harus melanjutkan ke tingkat SMP. Anak-anak jarang belajar di rumah karena harus membantu orang tua bekerja di sawah atau beternak. Selain itu, lemahnya infrastruktur seperti kurangnya sarana transportasi dan buruknya kondisi jalan menyebabkan daerah ini tertinggal.

RENCANA PEMBANGUNAN SALURAN IRIGASI DAN KOPERASI
Saat ini Yayasan Bina Bangsa Unggul, Yayasan Lima Roti Dua Ikan Indonesia dan Habitat for Humanity Indonesia sedang menjajaki kerjasama untuk membangun kembali saluran irigasi yang terputus akibat tanah longsor dan gempa. Putusnya saluran irigasi sepanjang 3 km itu menyebabkan sawah seluas 150 hektar itu tidak mendapat pasokan air. Akibatnya, masyarakat tidak dapat lagi menanam padi dalam waktu dekat. Sebagai alternatif, kami sedang mendampingi para petani untuk mencoba menanam nilam. Nilam merupakan bahan baku pembuat parfum dan obat-obatan. Mudah-mudahan budidaya nilam dapat memberikan nilai ekonomis yang lebih baik bagi para petani.
Yayasan Lima Roti Dua Ikan Indonesia juga sedang mendampingi masyarakat agar dapat mendirikan sebuah koperasi guna kepentingan bersama. Koperasi merupakan pilar ekonomi kerakyatan yang harus terus dibangun untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
|
|
Last Updated on Tuesday, 16 February 2010 09:14 |
|
|
PAUD PELITAKU hadir di Kampung Dumpit |
|
|
|
|
Written by website admin
|
|
Friday, 05 February 2010 06:29 |
|
PAUD PELITAKU HADIR DI KAMPUNG DUMPIT
Pada Sabtu, 23 Januari 2010 telah diresmikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) PELITAKU di tengah pemukiman warga yang sangat sederhana di Kampung Dumpit, Kelurahan Gandasari, Kecamatan Jati Uwung, Tangerang, Banten. Sebagian warga yang bermukim di wilayah tersebut adalah pendatang yang bekerja sebagai karyawan pabrik, pemulung dan collector.
Warga Kampung Dumpit RT 03/RW 05 ini menempati lahan sebuah pabrik yang memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat kurang mampu. Namun jika hujan datang, warga harus siap siaga mengamankan barang-barang di rumah karena daerah tersebut rawan banjir.
Warga mengaku senang dengan kehadiran PAUD PELITAKU di kampung mereka, sebagai PAUD satu-satunya saat ini. Seperti pengakuan Ibu Atik berikut ini, “Dengan adanya PAUD di tempat ini, kedua anak saya bisa sekolah sejak usia dini. Saya juga senang karena sekolah di sini gratis. Jadi dapat meringankan beban kami.” Sedangkan Bapak Max berpendapat, “Kami tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi lagi dengan dibukanya PAUD di kampung ini.” Adapun jumlah anak-anak yang bersekolah di PAUD PELITAKU berjumlah 35 orang anak.
PAUD PELITAKU merupakan pengembangan dari Sanggar Moriah yang didirikan oleh Yayasan Moriah. Pendiri Yayasan Moriah, Bapak Gunar Sahari dalam sambutannya berkata, “Pada zaman dulu orang buta huruf itu apabila tidak bisa baca-tulis. Tetapi zaman sekarang orang buta huruf jika tidak bisa berbahasa Inggris.” Sebab itu, salah satu pelajaran yang diajarkan di PAUD PELITAKU adalah bahasa Inggris. Rencananya pada tahun ajaran 2010/2011 juga akan dibuka TK PELITAKU di tempat ini. Tokoh masyarakat setempat yang hadir dalam acara pembukaan, Bapak Haji Namin, menyambut hangat pembukaan PAUD dan TK PELITAKU. Selamat atas pembukaan PAUD PELITAKU. Kiranya dapat menjadi pelita di tengah pemukiman yang sederhana.   
|
|
Rayakan Natal Bersama Anak Jalanan |
|
|
|
|
Written by website admin
|
|
Wednesday, 23 December 2009 08:16 |
|
Rayakan Natal Bersama Anak Jalanan
Gudang dengan tanah yang luas di dekat perempatan Palmerah – Tanah Abang itu tidak seperti biasanya. Tempat yang biasanya sepi dan hanya dijaga oleh security itu pada Sabtu pagi, 11 Desember 2009 ramai dikunjungi orang-orang. Sekitar 750 orang anak, ditambah kira-kira 100 anak remaja dan dewasa, berkumpul untuk merayakan Natal yang diselenggarakan oleh Yayasan Moriah. Mereka sudah hadir dan berkumpul sejak pukul 08.00 pagi, memakai mahkota balon berwarna-warni dan mengenakan T-shirt bertuliskan LOVE. Anak-anak dari keluarga masyarakat pra sejahtera ini datang dari beberapa daerah di Jakarta, diantaranya; Tanah Abang, Slipi, dll. “Saya mendapat informasi ada perayaan Natal di tempat ini dari kelurahan,” ucap Rahmat yang datang membawa ketiga anaknya.
Suasana ceria dan sukacita Natal terpancar dari aksi dan wajah polos anak-anak yang hadir. Meskipun suara gaduh anak-anak berkumandang, tetapi sikap mereka tetap tertib dan dapat diarahkan dengan baik. Apalagi ada penampilan pantomim yang tidak hanya mengundang perhatian anak-anak, namun juga memberikan pesan moral yang mendidik dibalik setiap ucapan dan gerakan. Dan kali ini, ketiga pemain pantomim ingin menyampaikan pesan bahwa Natal adalah mengasihi orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan pengharapan, terutama kepada orang yang kurang mampu.
Sementara itu, tidak kalah seru suasana di kelompok remaja. Mereka merayakannya dengan aneka permainan teamwork yang kreatif, dipandu oleh pemuda remaja dari GBI Intercon dan Seminari Bethel. Selain dapat menikmati makan siang bersama, semua yang hadir dapat membawa pulang hadiah Natal berupa kue kering yang gurih.
Sebelumnya, Jumat, 11 Desember 2009, Yayasan Lima Roti Dua Ikan Indonesia juga menyelenggarakan perayaan Natal bersama anak-anak jalanan di GBI Samanhudi, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai jockey tree in one, pemulung dan pengamen. Sekelompok pemuda dan pasangan muda yang tergabung dalam Community of Love (Cool) in Marketplace juga berbagi kasih Natal dengan para pemulung dan tunawisma di daerah sekitar stasiun Juanda, Senen dan Cempaka Putih. Mereka memberikan kejutan nasi kotak pada tengah malam hari menjelang Sabtu pagi, 12 Desember 2009 dengan iring-iringan motor. Ketika anak-anak jalanan di daerah perempatan ITC Cempaka Mas melihat iring-iringan ‘pasukan’ Cool in Marketplace membawa nasi kotak, mereka segera berlari dan menyerbu sasaran. “Om, bagi dong. Minta dua ya, satu lagi buat teman saya,” ucap seorang anak tanpa alas kaki.
Berdasarkan penelusuran YBBU di beberapa kegiatan Natal untuk anak jalanan, kondisi orang miskin di Jakarta (yang tentunya mewakiliki kondisi Indonesia) semakin memprihatinkan. Jika tidak difasilitasi, maka yang miskin akan semakin miskin. Nampaknya bidang pendidikan harus menjadi perhatian yang serius dan agenda utama pemerintah, swasta dan masyarakat. Jika pendidikan lemah, maka bodohlah rakyat. Dan kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan. Jadi, untuk mengentaskan kemiskinan, benahi sistem pendidikan di Indonesia terlebih dahulu.
Reported by Kendrick Sumolang.   |
|